Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Desember 2010

.:: CINCIN EMAS ::.


Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hiduplah seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya : "Tuan, saya belum faham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya dan sangat-sangat sederhana?? Bukankah di zaman seperti ini berpakaian moden amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lainnya!!!?."

Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata : "Wahai anak muda, akan kujawab pertanyaanmu, namun sebelum itu aku ingin kau melakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas."

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu; "Satukeping emas??. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu anak muda. Siapa tahu kamu akan berhasil menjualnya..!."

Pemuda itu pun segera pergi ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli dengan harga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Setal lelah menawarkan Ia kembali ke kediaman Zun-Nun dan melaporkan; "Tuan, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak."

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke tempat yang dimaksud. Tak lama berselang Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melaporkan; "Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih; "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi orang muda. Seseorang tak bisa dinilai daripakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu memerlukan proses wahai anak muda. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan kita lihat sekilas.Seringkali yang disangka emas ternyata besi biasa dan yang kita lihat sebagai besi biasa ternyata emas."

Kamis, 23 Desember 2010

.:: SOLUSI SEDERHANA ::.


Ini bagus , memang kadang-kadang kita disekolahkan tinggi-tinggi malah bikin kita jadi mikir yang susah-susah, padahal penyelesaiannya bisa jadi sangat mudah, naif, dan terkadang agak tolol. Heheheh........

Efisiensi adalah suatu hal yang penting di dalam dunia manajemen. Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Mari kita coba lihat dalam tiga kasus di bawah ini:


Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan ! segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.

Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir ten! tang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda . Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.

2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka
tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar.
Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawa! h titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ?.Mereka menggunakan pensil!.

3. Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu
tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik) mengundang sejumlah pakar untuk men-solve.

Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, "Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatian! nya dari pekerjaan"menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift".
................................................................................................

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.

"Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."


============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 146-148. ISBN 978-6028-686-402.

.:: POHON APEL ::.


Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel ... Ia mencintai pohon apel itu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu berlalu .......

Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. "Ayo bermain dengan saya," pinta pohon apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak 'bermain di sekitar pohon lagi. "Anak itu menjawab," Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya. "" Maaf, tapi saya tidak punya uang ..... tapi Anda bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang. "Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu sedih.


Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. "Ayo bermain-main dengan saya" kata pohon apel. Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda membantu saya? "Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu." Lalu, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali sejak saat itu.

Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. "Ayo bermain-main dengan saya!" kata pohon. "Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?" "Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia." Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. "Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada lagi apel untuk ananda. ..." kata pohon "." Saya tidak punya gigi untuk menggigit "jawab anak itu." Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat . "Saya terlalu tua untuk itu sekarang" kata anak itu. "Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ..... satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat" kata pohon apel dengan air mata. "Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun." Anak itu menjawab, "Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat di situ." "Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat" Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.


Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah ... Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka ... hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita.

=================================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 171-172. ISBN 978-6028-686-402.

.:: CERMIN ANAK ::.


Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas
drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi di sana.
Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh
yang mereka perankan. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan
memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.

Di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan
acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan
maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul
dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang
disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan
raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah,
sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya
pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan
guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah
saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah.
Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih
menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa,
supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas
panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa,
membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan
sebuah nama. Ahha... ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah-lah
yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak
gembira. "Aku menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju
panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan
terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh
hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit
bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas
mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus
sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu
pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi
yang terbaik.." tanya Pak Guru. "Coba kamu ceritakan kepada kami
semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..."

Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya
saya harus berterima kasih kepada Ayah saya di rumah. Karena, dari
Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah-lah
saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka,
bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah."

Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai
melanjutkan, "...Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi
peran ini, adalah peran yang mudah buat saya..."

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap.
Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak
tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya
berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan.
Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam
perilaku mereka.

Senin, 06 April 2009

.:: PRODUKTIVITAS KOLEKTIF ::.

Enteng benar Ummu Salamah menjawab pertanyaan Anas bin Malik. Khadam Rasulullah SAW ini diam-diam mengamati sebuah kebiasaan Sang Rasul yang rada berbeda ketika beliau menemui Ummu Salamah dan ketika beliau menemui Aisyah.

Rasulullah SAW selalu secara langsung dan refleks mencium Aisyah setiap kali menemuinya, termasuk di bulan Ramadhan. Tapi tidak begitu kebiasaan beliau saat bertemu Ummu Salamah. Nah, kebiasaan itulah yang ditanyakan Anas bin Malik kepada Ummu Salamah, yang kemudian dijawab begini: ”Rasulullah SAW tidak dapat menahan diri ketika melihat Aisyah.”

Jawabannya Cuma begitu. Penjelasannya sesederhana itu. Datar. Yah, datar saja. Seperti hendak menyatakan sebuah fakta tanpa pretensi. Sebuah fakta yang diterima sebagai suatu kewajaran tanpa syarat. Tanpa penjelasan. Sudah begitu keadaannya, kenapa tidak? Atau apa yang salah dengan fakta itu? Apa yang harus dicomplain dari kebiasaan itu? Itu sama sekali tidak berhubungan dengan harga diri yang harus membuat ia marah. Atau menjadi keberatan yang melahirkan cemburu. Mati rasakah ia? Hah?? Tapi siapa berani bilang begitu?


Terlalu banyak masalah kecil yang menyedot energi kita. Termasuk banyak pertengkaran dalam keluarga. Sebab kita tidak punya agenda-agenda besar dalam hidup. Atau punya tapi fokus kita tidak ke situ. Jadi kaidahnya sederhana :" kalau energi kita tidak digunakan untuk kerja-kerja besar, maka perhatian kita segera tercurah kepada masalah-masalah kecil ".



Karena mereka punya agenda besar dalam hidup, maka mereka tidak membiarkan energi mereka terkuras oleh pertengkaran-pertengkaran kecil, kecuali untuk semacam ”pelepasan emosi” yang wajar dan berguna untuk kesehatan mental.


Kehidupan mereka berpusat pada penuntasan misi kenabian di mana mereka menjadi bagian dari tim kehidupan Sang Nabi. Jadi masalah kecil begini lewat begitu saja. Tanpa punya bekas yang mengganggu mereka. Fokus mereka pada misi besar itu telah memberi mereka toleransi yang teramat luas untuk membiarkan masalah-masalah kecil berlalu dengan santai.


Fokus pada misi besar itu dimungkinkan oleh karena sejak awal akad kebersamaan mereka adalah janji amal. Sebuah komitmen kerja. Bukan sebuah romansa kosong dan rapuh. Mereka selalu mengukur keberhasilan mereka pada kinerja dan pertumbuhan kolektif mereka yang berkesinambungan sebagai sebuah tim.


Persoalan-persoalan mereka tidak terletak di dalam, tapi di luar. Mereka bergerak bersama dari dalam ke luar. Seperti sebuah sungai yang mengalir menuju muara besar: masyarakat. Mereka adalah sekumpulan riak yang menyatu membentuk gelombang, lalu misi kenabian datang bagai angin yang meniup gelombang itu: maka jadilah mereka badai kebajikan dalam sejarah kemanusiaan.


Cinta memenuhi rongga dada mereka.
Dan semua kesederhanaan, bahkan kadang kepapaan, dalam hidup mereka tidak pernah sanggup mengganggu laju aliran sungai mereka menuju muara masyarakat.


Mereka bergerak. Terus bergerak. Dan terus bergerak.
Dan romansa cinta mereka tumbuh kembang di sepanjang jalan perjuangan itu.


Sumber: Serial Cinta Anis Matta di Majalah Tarbawi

:hi::hi:

BERSYUKURLAH !!!


by : Anwar Mashudi, S.Pd


Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku ?

Philip M. Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini.
Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari :
57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang Afrika

52 perempuan
48 laki-laki

80 bukan kulit putih
20 kulit putih

89 heteroseksual
11 homoseksual

6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standart
70 orang tidak dapat membaca
50 orang menderita kekurangan gizi
1 orang hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
1 orang memiliki komputer

Marilah kita merenungkan analisis Hartner dan mulai dari hal-hal sebagai berikut :
  • Jika kamu tinggal di rumah yang baik, punya banyak makanan dan dapat membaca, kamu adalah bagian dari kelompok terpilih.
  • Jika kamu punya rumah yang baik, makanan dapat membaca dan memiliki computer (apalagi laptop…), kamu adalah bagian dari kelompok elit.
  • Jika kamu bangun pagi ini dan merasa sehat, kamu lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.
  • Jika kamu tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena di penjara, kesakitan karena penyiksaan atau kelaparan, kamu berada selangkah lebih maju dibadingkan 500 juta orang di dunia.
  • Jika kamu dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa atau mati, kamu beruntung…karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.
  • Jika kamu memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian dan memiliki atap menaungi tempatmu beristirahat, kamu lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.
  • Jika kamu memiliki uang di bank, di dompet dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, kamu termasuk dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.
  • Jika orang tuamu masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan pernikahan mereka, maka kamu termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka terutama di Amerika Serikat.
  • Jika kamu mampu menegakkan kepala dengan senyuman di bibir dan merasa benar-benar bahagia, kamu memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.
  • Jika kamu dapat membaca ini, kamu baru saja menerima karunia ganda, karena ada orang yang memikirkanmu dan kamu jauh lebih beruntung dibandingkan lebih dari 2 milyar orang yang tidak dapat membaca sama sekali.

Fain ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsyuuhaa. Niscaya kita akan pernah mampu menghitung segala nikmat dan karunia Allah untuk kita. Sampaikanlah hal ini kepada orang lain dan ingatkanlah bahwa sebenarnya…kita adalah orang-orang yang sangat BERUNTUNG.



:sweaty::inlove::woooh:

Minggu, 05 April 2009

MANUSIA BAHAGIA BILA ...


by :Anwar Mashudi, S.Pd

Manusia bahagia bila ... ia bisa membuka mata

Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti
Manusia bahagia bila…ia mau membuka mata hati

Untuk menyadari betapa ia dicintai ...
Manusia bahagia bila…ia mau membuka diri
Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus


Manusia tidak bahagia karena ...
Tidak mau membuka hati
Berusaha meraih yang tidak dapat diraih
Memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan
Tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada

Manusia tidak bahagia karena ...
Egois..dan hanya memikirkan diri sendiri
Tidak sadar bahwa ia begitu dicintai
Tidak sadar bahwa apa yang ada saat ini adalah baik
Dan terlalu berangan-angan atas sesuatu yang belum terjadi ...

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri
Jikalau berharap dari orang lain…
Maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati
Kita akan bahagia bila…
Kita bisa menerima diri apa adanya
Mencintai dan menghargai diri sendiri
Mau mencintai dan mau menerima orang lain.

Percayalah dan bersyukurlah kepada Tuhan
Bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati
Ia akan memberi kita disaat tepat apa yang kita butuhkan
Meskipun bukan hari ini, masih ada esok
Berusahalah dan bahagialah karena
Kita dicintai begitu banyak orang ...

:ahaha::scream::woooh:

Rabu, 01 April 2009

CINTA DAN WAKTU


Alkisah di sebuah pulau kecil tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun, suatu ketika datang badai yang menghempas pulau itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan, sebab ia tidak dapat berenang dan tidak punya perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air semakin membasahi kaki Cinta.

Tak lama kemudian, Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “ Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan, “perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!” teriak Cinta. Namun, Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu, sehingga tak mendengar teriakan Cinta.

Air semakin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. “ Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!” teriak Cinta. “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan. “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,”kata Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…”kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu, barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” Kata orang itu. “ Tapi mengapa ia menyelamatkanku?” Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku.” Tanya Cinta heran. “ Sebab” kata orang itu, “ hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta ...”

:puppyeyes::puppyeyes:

.:: FOLLOWER ::.

.:: Blog Archive ::.

.:: BLOGROLL ::.

 

Copyright 2009 by anwar maz

email : anwar_elhoeda@yahoo.co.id